Thursday, 21 April 2016

Sejuta Permasalahan di Kampung Sri Rahayu Purwokerto

Hari Jumat, 15 April 2016 ceritanya aku dan sepupu aku Fitri yang juga sedang studi S2 di PSDK (pembangunan sosial dan kesejahteraan) berkunjung ke kampung Sri Rahayu. Letak kampungnya itu dibelakang taman kota andang pangrenan Purwokerto. Aku sih nggak ada perlu sebenernya cuman nemenin sepupu aja yang mau penelitian buat thesis di kampung itu. Dan pengin tahu juga sekarang kondisi kampung Sri Rahayu seperti apa, setelah terakhir kesana kurang lebih pas semseter 5 jaman S1 dulu. Dulu juga aku cuma tahu sekilas tentang kampung Sri Rahayu. Iya tahu bahwa kampung ini penuh masalah, dan hanya sebatas itu.

Sesampainya di kampung Sri Rahayu kondisi masih terlihat sama seperti dulu.. kumuh dan kotor. Kita berdua langsung menuju rumah Pak Musofan, beliau ini adalah ketua yayasan Dewi Sri Rahayu. Sebuah yayasan dengan basis pemberdayaan masyarakat kampung Sri Rahayu. Selain sebagai ketua yayasan, beliau juga merupakan salah satu orang yang ditokohkan di kampung tersebut. Rumahnya tepat disebelah sanggar Dewi Sri Rahayu dan di depan satu-satunya musola di kampung tersebut. Rumahnya pun sangat sederhana, dindingnya masih terbuat dari sejenis triplek tapi lebih tebel.. apa tuh namanya ya?? Kesan pertama bertemu bapak ini beliau sangat sederhana penampilannya, menggunakan kaos oblong dan celana panjang. Malah sedikit terkesan awut-awutan dan jauh dari rapi. Setelah mengobrol, kita baru tahu kalau Pak Musofan ternyata dulu mahasiswa lulusan STAIN Purwokerto jurusan pendidikan agama. Beliau datang ke kampung ini pada tahun 2001 karena prihatin melihat kampung ini tidak memiliki tempat ibadah sekaligus tidak terjamah pendidikan agama. Pak Musofan pada akhirnya memutuskan menetap di Kampung Sri Rahayu dan ingin mengabdi di kampung ini dengan niat memberikan pendidikan agama kepada masyarakat kampung. Subhanalah.. sungguh aku tersentuh dan berfikir.. 1001 lah lulusan mahasiswa yang mau mengabdikan diri untuk kehidupan sosial, apalagi sampai memutuskan menetap di kampung itu.

Sedikit sejarah tentang kampung ini, mayoritas penduduk kampung adalah pendatang. Jadi mereka bukanlah orang asli Purwokerto/ Banyumas. Kebanyakan dari mereka berasal dari kota-kota besar. Mereka terbuang dan terkucilkan dari keluarga dan saudara sehingga tidak memungkinkan untuk bisa kembali lagi ke kota asal. Rata-rata dari merekapun adalah orang-orang bermasalah, yang pada akhirnya mereka menetap di kampung Sri Rahayu dan beranak pinak di kampung ini. Kampung ini kurang lebih memiliki 250 KK dengan beragam pekerjaan serta sekitar 200 anak usia sekolah, 50 diantaranya mereka tidak bersekolah.


Sanggar Dewi Sri Rahayu (tempat kegiatan yayasan Sri Rahayu)


Satu-satunya mushola di kampung Sri Rahayu


Rumah Pak Musofan disebelah sanggar & didepan mushola


Kondisi kampung Sri Rahayu


Kondisi kampung Sri Rahayu


Kita membahas banyak hal, dan sesungguhnya aku sangat antusias dan lebih banyak bertanya daripada sepupuku yang mempunyai hajat untuk bikin thesis. Ini adalah sebuah fakta dan realita kehidupan, sebuah permasalahan sosial yang sesungguhnya bukan menjadi PR pemerintah. Tapi itu PR kita bersama sebagai warga negara, sebagai generasi muda, seberapa besar kita memiliki kepedulian untuk memberikan solusi terhadap masalah sosial. Kampung Sri Rahayu ini diibaratkan Los Angles nya kota Purwokerto. Semua pekerjaan yang sedikit menyimpang ada disini: gelandangan, pengemis, PSK (PSK cewe, PSK gig*l*, PSK waria), copet, preman, dan segala bentuk pekerjaan yang tidak wajar hampir lengkap ada disini. Bedakan dengan Doli di Surabaya dan Sarkem di Jogja apa permasalahan kedua tempat tersebut? Yap prostitusi. Sedangkan di kampung Sri Rahayu warganya memiliki permasalahan yang sangat kompleks, lebih dari sekedar prostitusi.

Apa yang terjadi di kampung Sri Rahayu ibarat lingkaran setan yang akan terus berlanjut hingga kapanpun. Seseorang yang tinggal di kampung tersebut rata-rata tidak mampu mengubah nasib dan keluar dari lingkaran setan. Dari orang tua sampai anak cucunya bisa aja jadi gelandangan dan gak ada kemajuan apapun. Menurut penuturan Pak Musofan, banyak warga kampung Sri Rahayu yang sudah mau berubah. Satu-satunya cara untuk memutus rantai lingkaran setan adalah dengan berhijrah, pergi dari kampung itu selama-lamanya dan menetap di wilayah lain dengan kondisi lingkungan yang lebih kondusif. Kebanyakan dari mereka yang masih menetap di kampung tersebut dan berusaha mencari pekerjaan lain seperti kuli ataupun berjualan, pasti mereka akan kembali ke pekerjaan mereka yang dulu (entah itu jadi pengemis atau copet, dsb). Itu disebabkan oleh kondisi orang-orang sekitar yang tidak memungkinkan diri sendiri untuk berubah. Ingat sebuah pepatah teman kita adalah cerminan diri kita. Kalo temennya preman ya kemungkinan besar kita bisa ikut ketularan jadi preman.

Beberapa waktu yang lalu pemerintah Kabupaten Banyumas mensosialisasikan perda No.16 Tahun 2015 yang isinya kurang lebih seperti ini "Setiap orang/lembaga/badan hukum yang memberi uang dan atau barang dalam bentuk apapun kepada gelandangan, pengemis, pengamen, dan orang terlantar dan anak jalanan di tempat umum diancam pidana kurungan paling lama 3 bulan dan atau denda paling banyak Rp 20.000.000." Perda tersebut dipasang di papan pinggir jalan di setiap persimpangan lampu merah di Purwokerto. Karena lama di jogja, jadi pas balik dan jalan-jalan di Purwokerto agak kaget gitu sih liat ada papan itu.

Usut punya usut ternyata perda tersebut sedikit menimbulkan kerusuhan -.-. Berdasarkan berita yang aku baca di koran lokal sih tujuan perda Banyumas memasang papan tersebut buat mensosialisasikan tentang perda itu dan memberikan pengetahuan kepada masyarakat biar tidak sembarangan memberikan uang kepada mereka. Sebenernya maksud pemerintah baik, pemerintah tidak ingin mereka manja dengan hanya bergantung menjadi pengemis dan gelandangan dengan meminta-minta dijalanan. Sebenernya akupun nggak setuju dengan para gepeng (gelandangan & pengemis) itu, dan sekarang aku nggak pernah memberikan uang sepeserpun pada peminta-minta. Apalagi yang kondisi badannya masih sehat, yang sebenernya mereka bisa kerja yang lain kayak jadi PRT, jaga toko, tukang cuci, atau apapun lah yang tidak merendahkan diri mereka. Aku sedikit pilih-pilih kalau mau kasih uang ke para gepeng itu.

Nah apa hubungannya perda ini dengan kampung Sri Rahayu? Jadi mayoritas warga kampung Sri Rahayu adalah para gepeng itu. Awal mula adanya perda itu warga kampung Sri Rahayu tidak terusik dan terganggu sama sekali. Karena pada dasarnya mereka memang tidak tahu menahu, maklum lah mayoritas mereka berpendidikan rendah dan mungkin ada juga yang tidak bisa membaca. Yaa jangankan untuk memahami perda. Ceritanya ada oknum yang masuk ke kampung Sri Rahayu dan sedikit memprovokasi tentang perda tersebut. Mereka berdalih bahwa kalian para gepeng telah dirampas hak-nya untuk mencari nafkah di jalanan. Selain itu gepeng-gepeng tersebut juga diberikan pengetahuan tentang pasal 34 ayat 1 UUD 1945 yang berbunyi "fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara negara." Tapi pada kenyataanya yang terjadi adalah jauh dari yang disebutkan oleh UU tersebut. Nah panaslah para gepeng yang diprovokasi oleh oknum, dan mereka sempat demo didepan kabupaten hingga merusak sarpras yang ada disana.

Akibat dari kejadian tersebut, saat ini apa yang terjadi di kampung Sri Rahayu cukup mengkhawatirkan. Kampung ini warganya telah terpecah menjadi beberapa kelompok, yang masing-masing ceritanya memiliki tujuan yang berbeda (passion-nya beda gituu). Kelompok pertama adalah mereka yang melakukan demo di kabupaten. Mereka adalah orang-orang yang minta diakui keberadaan dan eksistensinya sebagai gepeng. Dalam artian, mereka kekeuh mau jadi gepeng aja dan nggak mau berubah. Kelompok kedua adalah kelompok yang masuk kedalam binaan Pak Musofan di yayasan Dewi Sri Rahayu. Dimana kelompok ini adalah yang menginginkan perubahan nasib lebih baik. Mereka ingin keluar dari lingkaran setan yang membelenggu diri mereka. Kelompok ketiga adalah kelompok para penguasa dan konglomerat kampung Sri Rahayu yang memiliki kepentingan tertentu. Dan pada intinya kelompok ketiga ini tidak ingin warga kampung Sri Rahayu berubah menjadi lebih baik, agar si empunya kepentingan semakin kaya raya.

Oke sekarang aku ikut pusing hehe... Selanjutnya aku tanya ke Pak Musofan. Sejauh ini bagaimana nasib orang-orang yang ingin berubah? Apa yang telah yayasan ini lakukan untuk mereka yang mau berubah dan apa yang pemerintah sudah lakukan untuk mengatasi hal ini? Sejujurnya saya males ngomongin pemerintah.  Jawaban Pak Musofan begini: Banyak diantara warga yang ingin berubah, dan memiliki pekerjaan yang lebih baik. Mereka tergabung dalam kelompok ibu-ibu PKK, bapak-bapak, dan remaja. Pak Musofan awalnya lebih banyak memberikan pendidikan agama pada mereka-mereka yang ingin berubah. Lambat laun Pak Musofan juga sering bekerjasama dengan akademisi dan pemerintah untuk program-program pemberdayaan. Dari pemerintah sendiri sering melakukan pelatihan-pelatihan kewirausahaan dan pemberian ketrampilan seperti menjahit dan lain sebagainya kepada masyarakat. Beberapa kalangan akademisi juga pernah mengadakan program-program tertentu di kampung ini. Beberapa kali ada juga mahasiswa yang tertarik penelitian di kampung ini. Kata Pak Musofan, warga seringkali bilang ke mahasiswa tersebut begini: "Mbok ya jangan penelitian tok, tapi kasih lah sesuatu buat kami." Maksudnya jangan cuma penelitian aja, tapi diharapkan kehadiran mahasiswa tersebut dapat memberikan perubahan nasib bagi mereka (dalam artian menolong mereka untuk keluar dari lingkaran setan). Duhh jujur aja aku sedih dengernya dan merasa ikut tertampar *plak*

Bapak-bapak, ibu-ibu dan remaja diberikan pelatihan kewirausahaan. Pak Musofan juga sempat menunjukkan hasil karya remaja kampung (lemari pakaian). Mereka mendatangkan pelatih/orang yang ahli dan membuat lemari pakaian. Intinya mereka selalu mendatangkan mentor untuk memberikan pelatihan ketrampilan. Ibu-ibu sempat diajari berwirausaha dengan dikursuskan menjahit, memasak (bikin cemilan, keripik dll), diberikan pengetahuan tentang pengemasan produk usaha, dan diberi modal berupa peralatan untuk usaha. Nah apa yang terjadi? mereka sangat semangat untuk membuka usaha. Bahkan mereka patungan bersama-sama untuk modal bahan bakunya. Mereka melakukan produksi dan mengemas produk mereka dengan menarik. Kemudian masalahpun muncul. Mereka tidak dibekali dengan ilmu pemasaran. Produksi jalan, tapi mereka tidak tahu harus kemana menjual produk-produk mereka. Padahal kesuksesan dari sebuah bisnis adalah marketing, sistem bisnis yang baik. Mereka harus paham ilmu itu.

Aku sering mendengar anggapan miring tentang warga kampung ini. "Mereka ya gitu tuh percuma dikasih pelatihan atau modal, ujung-ujungnya yaa nggak berguna mereka balik ngemis lagi." Anggapan ini menurutku tidak sepenuhnya benar, dan nggak bisa juga ditelan mentah-mentah. Banyak faktor yang menyebabkan mereka bertindak seperti itu, dan itu juga bukan sepenuhnya salah mereka. Hal pertama yang perlu dibangun dari warga kampung Sri Rahayu untuk mau berubah adalah kesiapan mental, mental harus kuat untuk menghadapi perubahan yang signifikan. Peralihan pekerjaan dari gepeng menjadi wirausahawan merupakan perubahan yang cukup jauh. Ketika mereka menjadi gepeng, mereka hanya perlu meminta-minta dan uangpun masuk ke kantong. Sedangkan ketika berwirausaha harus mau sedikit lebih repot dan pusing. Mau memproduksi, mau menjual dan perputaran uang lebih lama karena mereka harus mendapat pembeli dulu agar uang masuk ke dalam kantong. Dikarenakan tidak memiliki pengetahuan tentang pemasaran, produk-produk mereka pun nggak laku. Tidak ada pembeli. Padahal kebutuhan sehari-hari harus dipenuhi. Mereka memiliki keluarga yang harus dinafkahi dan membutuhkan uang untuk membayar tagihan-tagihan. Pada akhirnya mereka kembali kejalanan menjadi gepeng dan menjual peralatan yang dimodalkan oleh pemerintah. Mereka berpikir bahwa alat-alat tersebut tidak menghasilkan apapun.

Setelah melihat fakta di atas bagaimana pendapat kalian? Miris sekali bukan. Aku merasa amat sangat kasihan pada mereka warga kampung yang ingin merubah nasib hidupnya. Tapi mereka terhalang banyak kendala terutama ilmu pengetahuan. Apa yang sekarang mereka butuhkan? Mereka membutuhkan pendampingan secara intensif, terus-menerus dan dalam jangka waktu yang cukup lama. Pendampingan ini dilakukan hingga mereka dirasa cukup mandiri untuk berwirausaha sendiri,  memahami sistem bisnis, memiliki ilmu, dan sudah paham apa yang harus dilakukan. Kita hanya perlu membantu mereka membuatkan sistem pemasaran yang baik. Mengenalkan apa itu segmentasi pasar, bagaimana agar produk laku dijual dan bisa memproduksi barang secara kontinyu. Hal ini perlu didampingi oleh orang-orang yang memiliki ilmu tentang pemasaran. Tidak harus seorang yang profesional dan ahli, yang penting cukup mengerti dan paham dasar dari kegiatan jual-beli. Karena faktanya mereka juga tidak mau sistem yang ribet, mereka cukup dibekali dengan pengetahuan yang bisa dengan mudah mereka pahami. Melalui tulisan ini aku ingin mengajak kepada siapa saja yang peduli akan kampung Sri Rahayu untuk bersatu dan membantu memberikan ilmu serta pembekalan wirausaha kepada mereka. Aku dengan senang hati menyambut siapa saja yang ingin bergabung membantu mereka.

Gagasanku adalah, aku membayangkan kampung ini memiliki kelompok usaha dimana mereka nantinya mampu mandiri dengan kelompok usaha tersebut. Kelompok usaha dapat dibagi menjadi beberapa divisi seperti divisi produksi, divisi pengemasan, divisi pembelian bahan baku, divisi keuangan, dan divisi pemasaran/sales. Produk-produk hasil usaha kampung ini tergolong produk umkm, yang dibantu sistem pemasarannya hingga mereka memiliki segmentasi pasar dan pelanggan yang  melakukan order dalam jumlah besar serta melakukan order secara kontinyu. Jika sistem pemasaran produk ditujukan pada pedagang besar (dalam artian penjual pihak kedua) diharapkan warga kampung Sri Rahayu dapat memproduksi produknya dengan jumlah yang lebih besar. Otomatis dengan sistem produksi yang besar ini akan menyerap banyak tenaga kerja untuk memproduksi.  Cara seperti ini diharapkan mampu menarik perhatian warga lain untuk turut bergabung dan merubah nasibnya. Hal ini juga bisa menjadikan kampung Sri Rahayu menjadi desa binaan yang mempu memberikan inspirasi bagi desa-desa lainnya. Semoga.
Continue reading Sejuta Permasalahan di Kampung Sri Rahayu Purwokerto

Thursday, 14 April 2016

Jurusan IPA atau IPS itu Sama Saja




Merasa terprovokasi dengan judulnya? Hahaha, mungkin iya bagi kalian yang alumni IPA, atau masih sekolah jurusan IPA. Kalo aku sih enggak, soalnya dulu ambil jurusan IPS! hahahaha. Dasar provokator. Flashback ke jaman SMA dulu, rata-rata penjurusan SMA itu dua jalur.. IPA dan IPS. Beberapa SMA ada yang menyertakan penjurusan bahasa, tapi itupun sangat jarang sekali.
Apa yang membedakan kedua jurusan ini? Nggak ada yang beda kok, sama aja. Terserah kalian kan mau pilih jurusan yang mana sesuai minat kalian??

Tapi.. ini dia stigma turun temurun dan mungkin masih melekat hingga sekarang tentang jurusan IPA dan IPS yang menurutku menjerumuskan ke dalam lubang neraka jahanam!*emosi* Dimana - mana orang pada umumnya menyepakati kalau anak IPA itu dicap sebagai anak yang pinter - pinter, kalem, rajin belajar, kutu buku, calon orang sukses, bikin orang tua bangga (pamer kemana-mana) beuhhh.
Sebaliknya anak IPS udah bandel, males - males, nakal, suka bolos. IYA emang iya bener aku dulu begitu hahaha.

Masih inget jaman dahulu kala ketika naik kelas dua SMA dan harus menentukan pilihan antara IPA dan IPS. Ya jelas lahhh milih IPS banget.. alasan pertama nggak bakat itung-itungan (aku benci segala hal yang berhubungan dengan itung-itungan), alasan kedua masa mudaku akan terenggut dengan belajar hal-hal yang bakal bikin ribet (dan mungkin ga bakal kepake di dunia kerja?!). Temen se-geng aku masuk IPA semua (4 anak) dan aku masuk IPS sendiri. Suatu hari ketika liburan sekolah naik kelas dua SMA kita se-geng silaturahim ke rumah mantan Ibu wali kelas. Ditanyain tuhh kita semua pada masuk ke jurusan apa. Empat anak itu bangga dong nyebutin kalo dirinya masuk IPA, dan aku sendiri kayak anak tiri masuk IPS. Terus yang bikin kesel, Ibu wali kelas menatapku dengan tatapan agak sedih gitu sambil bilang "ga pa-pa ya masuk IPS, tiap jurusan kan ada kelebihan masing-masing". Ya Tuhannn kesel pake banget, yaa emang aku nggak pa-pa.. gak perlu dikasihani gitu kali bu -.- Bahkan Ibu guru pun mereka mengiyakan stigma tentang anak IPA dan IPS.

Pengalaman lain, masih tentang temen satu geng kala SMA. Sebenernya tuh waktu itu anak satu geng (5 anak termasuk aku) yang masuk ke IPA ada 2 anak, 3 sisanya termasuk aku masuk IPS. Tapi yang lucunya pake banget kedua temen aku ini nggak terima masuk IPS, mereka ngotot minta masuk IPA. Aku sampe geli gitu ingetnya, mereka dateng ke guru nangis - nangis minta tambahan buat remidial biar bisa masuk IPA.. terus mereka janjiin ini itu ke guru. Yang menurutku janjinya terlalu mustahil untuk diwujudkan wkwkkw. Ditambah mereka berdua yang gak terima dimasukin IPS itu nangis bombay curhat ke kita - kita sambil bilang "Ya Allah aku nggak mau masuk IPS. Aku pengen besok jadi ini (profesi yg berkaitan dengan jurusan IPA). Gak mungkin banget kan kalo aku masuk IPS." Sambil menenangkan dan membatin.. ya ampun ini anak lebaynya... (dan akhirnya mereka berdua bisa dipindahin masuk ke IPA).

Seminggu pertama adalah waktu kebebasan kita buat nentuin akan lanjut di jurusan yang kita pilih atau pindah ke jurusan lain.  Aku masih inget banget dan nggak mungkin bakal aku lupain. Ada temen satu kelasku di jurusan IPS namanya Ica (nama samaran) yang minta pindah ke jurusan IPA. Geng aku (langsung punya geng baru nih) langsung nanyain ke si Ica kenapa kok pindah? Tahukah apa jawabannya?
Jawaban Ica begini "Aku kalo masuk di jurusan IPS mau jadi apa besok? Mending ke IPA kan jelas."
Kita se-geng emosi tingkat dewa denger alasan Ica pindah jurusan, dan ngumpat sejadi-jadinya. Huh, dia pikir dia siapa? Kurangajar banget tuh anak bilang begitu! Dia pikir bakal sukses gitu kalo masuk jurusan IPA? Gak liat ya orang yang diajakin ngomong tuh jurusan IPS? Kira - kira begitulah umpatan kita waktu itu, hihi lucu kalo inget.

Enam tahun berlalu sejak kita lulus SMA. Masing - masing dari kita sudah menentukan jalan hidup yang dipilih. Temen se-geng ku ketika dulu kelas satu SMA juga udah keliatan mereka arahnya kemana. Keempat temenku yang IPA: temen pertama sekarang sedang koas kedokteran (dia emang niat jadi dokter dari dulu), yang kedua gak lanjut kuliah karena ga ada biaya sekarang jadi admin di sebuah yayasan, ketiga jadi guru matematika SMA, keempat jadi CS di salah satu perusahaan provider (temen ketiga dan keempat ini yang dulu nangis - nangis karena gak terima dimasukin ke IPS), dan aku (IPS) terdampar di S2 UGM karena masih obses pengen jadi dosen hehe). Terus soal si Ica nih, nggak tau juga dia gemana kabarnya. Penasaran sih sebenernya.. apa dia udah jadi dokter atau mungkin menteri atau bidan, perawat? Entahlah kita buktikan di masa depan kamu jadi apa Ca *nantangin*

So, lihatlah bagaimana menurut kalian apakah jurusan IPA itu bisa menjamin sebuah kesuksesan? Aku nggak lagi menjelek - jelekkan jurusan IPA ataupun membela jurusan IPS. Tapi ayo kita berpikir maju kedepan, thinking out of the box, jangan terpengaruh stigma yang menjerumuskan diri kalian. Dunia ini terus berubah dengan cepat, sudah bukan jamannya merasa tinggi hati dengan masuk IPA dan merasa malu dengan masuk IPS.

Yang menentukan kesuksesanmu kelak adalah kemauan, cita - cita, keyakinan, dan kerja keras. Mungkin pilihan akan jurusan IPA atau IPS bisa dilakukan dengan bijak jika kamu tahu dan paham apa yang akan dilakukan pada masa mendatang. Misalnya, sudah sangat mantap untuk jadi dokter ya masuklah jurusan IPA. Ataupun jika memang kamu merasa ingin menjadi akuntan masuklah di jurusan IPS. Itu contoh yang amat spesifik. Nah kalo maunya masih nggak jelas gemana?? Masuklah ke jurusan yang paling kamu kuasai dan bikin kamu nyaman untuk belajar selama 2 tahun ke depan. Percayalah apa yang dipelajari disekolahan tidak sepenuhnya bisa digunakan di dunia nyata yang kejam ini. Provokasi lagi deh.

Beberapa temen aku yang masuk IPA ataupun IPS banyak yang mulai keliatan mereka sukses di bidang pekerjaan masing-masing, ada yang masih merintis karir, ada yang lanjut studi master juga, dan ada yang memustuskan berwirausaha. Yaa pada akhirnya kita punya jalan masing-masing, dan di kehidupan nyata kita tidak memandang apakah dulu jurusan IPA atau IPS. Sekarang semuanya sama, tinggal bagaimana kita berjuang meraih impian. Banyak kasus orang sukses dan dulu sekolahnya di jurusan IPA dan yang gak sukses juga ada.. begitu pula sebaliknya dengan jurusan IPS. Bahkan yang dulu nggak sekolah sekarang sukses juga ada (itu beda lagi urusanya ya). Dan asal kalian tahu, pekerjaan yang kita hadapi di masa depan seringkali juga nggak nyambung dengan jurusan yang dulu kita ambil. Hal itu wajar banget terjadi, karena hidup ini misteri kita nggak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Bahkan rencana dan cita-citamu semasa dulu bisa saja berubah seiring berjalannya waktu dan berkembangnya pemikiran. Temen aku yang dari jurusan IPA sekarang ada yang kerja jadi bankir, developer, pengusaha, PNS. Begitu juga yang IPS ada yang jadi fotografer, pengusaha, guru, perhotelan, ritel dan lain sebagainya.

Sebenernya yang paling penting itu kita tahu dulu nih apa yang menjadi kesenangan, hobi dan passion. Jadikan hal tersebut sebagai cita-citamu dan pekerjaanmu kelak. Apa yang menjadi keinginanmu, lakukanlah dan raihlah. Jangan berlama-lama membuang waktu dengan mengerjakan sesuatu yang tidak disukai. Jangan sampai kehilangan arah dan tidak tahu mau jadi apa di masa depan (ini yang bahaya). Jadi kesimpulanya wahai kalian anak SMA baik IPA dan IPS kalian sama-sama pintar, sama-sama memiliki peluang untuk sukses dan kaya di masa depan.. pemilihan jurusan tidak akan menentukan kadar kesuksesanmu dan keberuntunganmu tapi kerja keraslah yang mampu membawamu kearah kesuksesan.


Semoga memotivasi :D




Continue reading Jurusan IPA atau IPS itu Sama Saja

Friday, 29 January 2016

((Review)) Erha Hair Growth Shampoo


Shampo ini sebenernya udah lama banget aku beli, jauh sebelum perawatan wajah di erha. Awalnya aku searching-searching  di internet tentang rekomendasi shampo apa yang bagus buat rambut rontok. Yaa secara rambut rontok banget karena sering smoothing, colouring, catok, daan masih banyak lagi. Belum lagi aku berhijab, otomatis kulit kepala lebih berminyak dan harus sering keramas (padahal males banget keramas huhu). Aku juga udah coba segala macem shampo khusus buat rambut rontok, dan nggak ngeliat perbedaan yang signifikan sih. Rambutku masih tetep rontok. Suatu waktu ketika aku searching, aku nemuin ada salah satu blog yang ngereview shampo ini. Dan ternyata yang ngereview shampo ini cukup jarang. Beberapa kali aku nemuin mereka yang review perawatan rambut di erha, bukan mendetil ke shamponya.

Begitu baca review dari sang blogger, aku langsung tertarik nyoba ini shampo. Katanya si blogger sih dia cocok pakai ini dan rontoknya berhenti setelah pemakaian dua minggu. Jadilah aku pergi ke erha buat beli shampo ini. Untuk shampo ini bisa dibeli secara bebas ya di erha apothecary. Oke, ternyata shamponya ada dua ukuran yaitu 125ml dan 250 ml. Harga yang 125ml itu 75ribu, dan yang 250ml itu 129ribu. Karena jatohnya lebih murah yang 250ml, akhirnya aku beli yg ukuran itu. Tapi belakangan aku agak nyesel beli ukuran ini, harusnya nyoba dulu beli yg ukuran kecil buat tau cocok enggaknya. 

Sorenya langsung aku coba tuh shampo. Warnanya bening gel gitu dan nggak ada baunya. Maksudnya nggak bau harum kayak shampo-shampo pada umumnya. Pakainya juga harus agak banyak, karena busanya sedikit jadi aku ngerasa kayak nggak shampoan dan nggak bersih gitu. Shamponya juga nggak mengandung conditioner, jadi setelah pakai shampo ini rambut emang terasa kering banget. Tapi katanya sih, shampo yang bagus untuk rambut rontok emang yang model begitu (nggak berbau, dan nggak mengandung conditioner).  Pemakaian pertama yaampun deh pas keramas rontoknya minta ampun serem banget dan agak nyut-nyutan gitu kulit kepalaku. Aku mikir jangan-jangan aku nggak cocok pakai shampo ini. Soalnya pas kramas malah rontoknya banyak banget. Tapi aku tetep posthink dulu sih. Trus mencoba buat rutin keramas seminggu 2-3x kramas. Hasilnya rontoknya aku ngerasa lumayan berkurang. Menjelang pemakaian sebulan numbuh rambut-rambut baru dibagian kepala depan sebelah kiri (karena emang agak botak gitu tadinya). Dan sekarang rambut yang bekas botak itu udah numbuh lebat dan panjang.

Sebenernya sih untuk pemakaian shampo ini harus diselingi dengan pemakaian serum erha. Tapi males banget mau beli, nggak ramah di kantong hehe. Katanya buat kondisi rambut rontok yang parah lebih baik konsultasi ke dokternya buat dikasih rangkaian perawatan untuk rambut. Berdasarkan review blogger yang aku baca sih biayanya sekitar 700-800 dan ada obat minumnya juga sejenis zinc.

Sampai sekarang udah pemakaian ada 5 bulan (awet banget shamponya belum habis-habis) hasilnya rambutku masih rontok :(. Tapi mungkin bukan salah shamponya juga sih, tapi salah aku yang males keramas hehehe. Tips aku buat yang mau pakai shampo ini, keramasnya harus rutin dan teratur. Karena aku ngerasain banget rontokku berkurang di awal satu bulan pemakaian karena jadwal keramas yang rutin. Belum lagi yang berhijab, jangan nunggu rambut lepek dulu baru keramas. Kadang kalo keramasnya dalam kondisi rambut yang lepek banget justru pas keramas tambah banyak yang rontok. Selain itu juga harus diimbangi dengan banyak minum air putih, konsumsi sayur dan buah.

Kelebihan :
Rontok berkurang
Rambut cepet numbuh
Awet (bisa dipakai berbulan-bulan)

Kekurangan:
Efeknya rambut kering setelah keramas (bisa diakalin pake vitamin rambut setelah keramas, kayak elips).
Meski rontok berkurang, tetap belum bisa menghentikan rambut rontok aku :(

Repuchase??
Fifty-fifty deh
Continue reading ((Review)) Erha Hair Growth Shampoo

Wednesday, 27 January 2016

((Review)) Erha Clinic dan Jerawat Part II


Awal mula aku dateng ke erha itu tanggal 11 desember 2015, setelah kontrol aku dipesenin dokternya buat kontrol lagi 4 minggu kemudian. Berarti jadwal kontrol kemudian jatohnya tanggal 11 januari 2016. Sejauh ini seperti yang aku ceritain dipostingan sebelumnya kulitku mengalami kemajuan yang cukup signifikan dan memuaskan. Tapi suatu ketika, kira-kira 10 hari sebelum kontrol tiba-tiba kulitku gatel-gatel gitu di leher dan ada bentol merahnya. Seing aku garukin karena gatel banget, belum lagi kalo kena keringet siang hari dan ketutup jilbab jadi tambah gatel. Awalnya aku itung cuma ada lima bentolan dan lama-lama makin banyak. Lalu akupun tersadar ini bukan gatel tapi jerawat!!! Duh pengen nangis gueehhh.. giliran muka bersih malah leher jerawatan T.T. Karena leher jerawatan, jadi aku pakai krim wajah dan facial foamnya sampe leher juga. Agak kesel, jengkel gemanaa gitu karena seumur-umur nggak pernah deh aku jerawatan di leher apa lagi banyak banget gini dan munculnya dalam waktu singkat pula!

Aku telat kontrol satu hari, harusnya tanggal 12 januari tapi karena ada surprise party jadi aku kontrol tanggal 13 januari. Posisi waktu itu obat minum udah abis semua tapi krim muka dan facial foam masih  banyak dan aku pikir masih cukup buat setengah bulan kedepan. Awalnya galau mau kontrol apa enggak, tapi mumpung lagi di Jogja dan belum mudik akhirnya aku putuskan buat tetep kontrol, kalopun dikasih resep bakal aku tebus setelah krimnya habis di erha purwokerto. Diperiksalah sesampainya di erha. Begitu dateng ditanyain apa aja perubahannya dan apa ada keluhan, akupun cerita bla..blaa.. Eh tiba-tiba dokternya tanya, di leher jerawatan gak?? Nahh ini kok tau sih aku jerawatan dileher padahal belum ngomong deh.  Dan jilbabku ku copot buat nunjukkin kalo bener jerawatan dileher. Karena penasaran aku tanya tuh kok bisa nongol jerawat di leher dok?? Jawaban dokternya nggak memuaskan bangett, dia cuma bilang iya mba memang biasanya selalu ada kemungkinan buat muncul di leher. Yakali dok, tapi penyebabnya apa gitu -,- jawaban dokternya gitu-gitu aja deh. Akhirnya aku menyimpulkan sendiri kalau itu ternyata jerawat menjelang mens yang gruduggan minta ampun banyaknya di leher. Soalnya biasanya menjelang mens aku jerawatan di muka. Tapi ini di muka gak muncul jerawat sama sekali.. behhh nggak gini juga kali wat! DOkter menyarankan krimnya dipakai sampai leher. Seperti biasa selesai kontrol, wajah aku difoto lagi, kemudian dibuatkan resep, beberapa krim wajahnya ditingkatin dosisnya. Kata dokter kalo agak perih di wajah di selang-seling sama krim yang dulu. Resepnya hampir sama kayak pas kontrol pertama, dan masih tetep minum antibiotik juga.

KArena krim ku masih semua, jadi yang aku tebus cuma biaya konsultasi sama biaya obat minum. Tapi malah aku disuruh acne peeling sama dokternya. Awalnya mikir-mikir sih karena kata temenku mahal, tapi kata dokter aku butuh acne peeling buat ngeringin sama ngempesin jerawat yang di leher (strategi maarketing lagi dan anehnya aku tergoda). Jadilah aku acne peeling kurang lebih 30 menit. Dan rasanyaa muka perih sampe dua hari. Lumayan cekit-cekit, panas, dan perih banget di muka gitu peeling nya. Setelah peeling aku nggak boleh panasan dan olahraga selama 3 hari kedepan, disarankan juga untuk hanya menggunakan krim pagi aja (jgn pakai krim malam dulu).

Aku bayar deh ke kasir totalnya 588 ribu,, duhh mahalnyaahhhh.... rinciannya acne peeling 350 ribu, konsultasi 100 ribu, antibiotik 138 ribu. Efek setelah peeling masih perih gitu sampai besoknya apa lagi kalo kena air, tambah deh perih banget.  Memasuki hari kedua after peeling wajah lebih bersih dan kulit mengelupas. Asli deh muka ku jadi bersih cerah gitu (efeknya lebih putih). Sampai sekarang juga lebih cerahan muka ku, jerawat kering dan kempes, kulit lebih kenceng dan keliatan lebih seger/muda (perasaanku sih, haha). Dijadwalin buat next peeling dua minggu kemudian atau 26 januari. Dan meskipun hasilnya bagus dikulit tapi jujur aja males buat peeling lagi karena nggak kuat panas perihnya itu lhoo nyiksa banget.. huhu.. Next kontrol bulan februari, tunggu update selanjutnya ^^

Continue reading ((Review)) Erha Clinic dan Jerawat Part II

((Review)) Erha Clinic dan Jerawat Part I

Jadi beberapa tahun belakangan ini kulit mulusku dihinggapi makhluk menjengkelkan yang disebut dengan jerawat (kzl) dan belum pernah separah ini hiks T.T. Awal jerawatan waktu menjelang semester akhir kuliah dan itu cuman nongol beberapa aja di muka. Aku cuekin deh karena paling nanti ilang sendiri. Dan ternyata semakin dicuekin memang semakin hari semakin nambah tuh jerawat. Ditambah dengan hormon aneh super ngeselin  yang tiba-tiba muncul (sebelumnya nggak pernah tuh begini). Menjelang menstruasi pasti seminggu sebelumnya muncul jerawat dimana-mana. Kadang cuma satu dua, kadang banyaknya ampun deehh. Itu jerawat bakal ilang sendiri sih menjelang usai menstruasi. Tapi ampun deh bekasnya ilang entah kapan T.T. Belum lagi setiap mens jerawatnya muncul ditempat yang sama, alhasil kapan deh ini bisa ilang bekas jerawat? Yang ada malah bekasnya menghitam.

Jerawat yang semakin parah ini jujur aja bikin nggak pede. Kalau keluar rumah pasti selalu pake make up tebel. Selalu pakai foundation dan concealer buat nutupin jerawat dan noda-noda-nya. Actually, make up kayak gini gak sehat banget buat kulit berjerawat. Karena kulit bakal ketutup pori-porinya dan mengakibatkan jerawat makin parah. Tapi mau gimana lagi, nggak pede banget bray hiks..

Akhirnya karena nggak tahan aku coba berbagai pengobatan dari tradisional sampe yang ke dokter. Awalnya aku emang lagi perawatan kulit di Dr. Amelia spkk, tapi perawatan kulitnya cuma buat menjaga kelembaban sama kecerahan kulit bukan buat jerawat. Karena denger-denger wajah jerawat nggak boleh pake produk whitening, akhirnya aku mandeg dan pakai cara lain. Sebenernya di Dr. Amelia ada pengobatan acne juga tapi nggak minat cobain karena adik aku juga jerawatan (lebih parah jerawatnya) dan berobat disitu nggak ada perubahan. Ngerasa males dengan perawatan ke dokter kulit, aku akhirnya pake perawatan tradisional. Setiap malem sebelum tidur aku pakai masker jeruk nipis+madu yang aku olesin ke wajah selama 1 jam. Kadang pakai masker tomat atau stroberi yang diparut. Hasilnya setelah tiga bulan jerawat mendingan, muka lebih cerah kinclong gitu, dan komedo ilang!!

Tapi jujur aja itu nggak bertahan lama, apalagi pakai masker kayak gitu jujur aja ribet kadang capek jadi males ngraciknya dan kalo jerawat lagi parah-parahnya nggak mempan gitu maskernya. Nah seiring berjalannya waktu aku cuekin aja tuh muka, aku cuman ganti kosmetikku dgn yg khusus acne. Dari facial foam, pelembab, bedak dll aku pake yang khusus kulit berjerawat. 

Ceritanya nih suatu hari bapak aku pijet dan ngundang tukang pijet langganan kerumah. Si bapak tukang pijet kaget lihat wajah adik aku yang jerawatan parah dan dia merekomendasikan dokter (sebenernya bukan dokter lebih tepatnya mantri kesehatan gitu) katanya si bapak, udah banyak yang berobat jerawat kesana dan kebanyakan sembuh.  Tapi tempatnya lumayan jauh boo.. di rawalo (banyumas). Dari purwokerto (rumahku) perjalanan kurang lebih 30-45 menit. Oke singkat cerita berobatlah adik aku kesana, dia dikasih obat minum 3 macem yg satu antibiotik harus habis diminum dan dikasih satu gel jerawat buat dipakai pagi dan malam. Syaratnya selama pengobatan nggak boleh pakai bedak atau make-up. Kalo malu pake masker muka aja buat nutupin jerawat. Dan obat minumnya ini berefek sama orang yang punya penyakit magh. Biaya nya lumayan murah cuman 100ribu aja udah termasuk biaya priksa. 

Adik aku termasuk orang yang ulet dalam ngobatin jerawat, alhasil kurang lebih 6 bulan jerawatnya sembuh. Menjelang pengobatan satu tahun mukanya mulus-lus bersih dan nggak ada bekas jerawat. Dan sampai sekarang adik aku nggak pernah pakai bedak (karena kebiasaan nggak pake). Oke ngliat adik aku sukses, aku pun berobat kesana. Dikasih obat dan gel jerawat yang sama. Gel jerawatnya menurutku work it banget, jerawat jadi cepet kering. Kalau obatnya enggak banget, karena aku punya penyakit magh jadi itu obat perih banget di perut. Akhirnya karena nggak kuat obat aku stop tapi tetep pake gel jerawat. Pesen dokter emang nggak boleh pakai bedak dan make up tapi aku tetep ngeyel pake aja, gel jerawat cuma aku pakai pas malem doank. Hasilnya jerawat tetap aja nongol dan belakangan malah banyak jerawat batu. huaaaaa pusing gueehh :(

Akhirnya aku biarin aja deh ini muka tetep jerawatan sampe sekolah S2, trus tetep juga pakai make up tebel buat nutupin jerawat. Pada suatu hari di akhir tahun 2015 tiba-tiba aku tersadar, aku bentar lagi mau merit (nggak sampe setaun lagi) trus rencana awal merit mau ikut mertua (udah diminta gueeh) dan ortu setuju-setuju aja katanya buat ngurangin brisik dirumah (yaampun jahatnyaa :( ). Back to topic, aku mau merit ceritanyaah masa muka jerawatan mulu kan malu sama suami, sama mertua juga :(

Atas dasar itulaah akhirnya aku bertekad buat serius ngobatin jerawat. Mulailah dengan googling dan searching sana-sini tentang pengobatan jerawat. Hasil googling aku menyimpulkan klinik yang cukup recomended antara lain Erha, Natasha dan LBC. Beberapa juga tanya-tanya sama temen kuliah dan jawabannya random gitu tergantung cocok-cocokan katanya. Tiba-tiba aku inget sama temen satu geng aku (ceritanya punya geng nih kuliah S2 hehe), namanya mba Iva dia perawatan wajah di Erha karena jerawatan dan sekarang udah ilang jerawatnya cuman tinggal ngilangin bopeng aja.

Setelah curhat sana-sini dan minta pendapat berobat dimana, dia ngrekomendasiin Erha karena katanya klinik lain banyak yang dokternya bukan spesialis kulit. Belum lagi dia pengalaman di klinik lain berobat 2 tahun nggak banyak perubahan.  Trus dia juga ngrekomendasiin buat pake dokter Lisa Murniarti (dokter yg nanganin dia) katanya dokternya sabar, ngertiin dan gak komersil (nyuruh-nyuruh beli ini itu yg sifatnya agak memaksa). Oke fix, akhirnya keputusanku jatuh pada Erha dengan berbagai pertimbangan.

Tibalah hari senin aku ditemenin oleh mba iva ke Erha kotabaru Jogja jam 1 siang buat konsultasi kulit, kebetulan temenku itu juga mau konsultasi bulanan. Setelah mendaftar dan menunggu  beberapa antrian akupun masuk keruang konsultasi ditemenin sama mba iva. Awalnya, cuma ditanya apa masalah/keluhan, trus riwayat pengobatan kulit sebelumnya, dan sekarang lagi pakai perawatan/sedang minum obat apa. Aku jelasin tuh satu persatu bla..bla... eeehh tiba-tiba temenku ini nih nyeletuk "dok ini temenku mau merit makanya dia mau berobatin kulitnya."  Hedeuu.. apa pula mba iva pake ngomong2 gitu -.-. Dokternya jawab: Ohya?kapan mba? Trus aku bilang.. taun depan dok Insha Allah.. Dokternya jawab: Oh taun depan, tenang aja masih ada waktu kok. Hmmm judulnya ngilangin jerawat sebelum merit ya hahha. Oya, aku dipesenin juga selama pengobatan nggak boleh pake make up tebel, no foundation, no concealer, no compact powder (harus pake bedak tabur). Yaampun pingsan aja deh dok T.T. Satu lagi nggak boleh sering kepanasan alias kena sinar matahari langsung.

Diperiksalah wajahku pake alat kayak kaca pembesar untuk wajah gitu. Setelah itu wajah aku di foto sama asisten dokternya. Dikasihlah resep oleh dokter, antara lain ada krim pagi 2 macem, krim malem 3 macem, facial foam, dan obat minum dua macem (yang satu anti radang, dan satunya antibiotik). Buat yang anti radang dikasih 10 tablet diminum sehari 2x, sedangkan yang antibiotik 30 kapsul, sehari sekali selama sebulan.

Rangkaian Perawatan Acne dari Erha



Krim Pagi

Untuk krim pagi terdiri dari dua jenis. Krim pagi 1 (AMG 3) dan krim pagi 2 (AF 4). Cara pemakaiannya pagi hari cuci muka dulu dengan acne facial foam setelah itu gunakan krim pagi 1 secara merata, biarkan sebentar hingga meresap dikulit. Kemudian oleskan lagi krim pagi 2 secara merata. Setelah pakai krim pagi 2 boleh pake bedak, dan bedaknya pun harus tabur. Tadinya aku pake bedak tabur acne-nya Wardah, tapi setelah itu aku ganti pake bedak tabur acne-nya Erha. Boleh pake makeup kayak alis, eyeshadow dan lipstik. Tapi kalo blush on mending jangan dulu. Pemakaian ini bisa diulangi lagi siangnya dengan cara yang sama. Kalo aku biasanya setelah solat, karena kan krimnya ilang tuh kena wudhu. So, aku dobelin lagi penggunaan krim-nya tapi cuma krim pagi 2 setelah itu baru pakai bedak.

Krim Malam 
Krim malem ada tiga macem, krim malam 1 (AFT), krim malam 2 (CC10), dan malam totol (AST). Cara pemakaiannya sama aja kayak krim pagi. Cuci muka dulu pake facial foam trus pake krim malam 1 merata, dobel pake krim malam 2 merata. Nah buat yang malam totol khusus ditotolin di daerah yang berjerawat aja.




Acne Facial Foam

Antibiotik 

Acne Face Powder  (bedak tabur)

Bedak tabur ini waranya lebih ke natural bening gitu. Jadi efeknya kayak nggak pakai bedak, persis kayak bedak bayi. Bedak ini bisa dibeli bebas di Erha Apohteracy harganya 85 ribu. Awalnya pake bedak ini bikin nggak pede gitu, karena jerawatku keliatan semua dan nggak nge-cover noda. Tapi so far, aku malah cocok banget pake bedak ini. Rasanya enteng aja kulitku. 

Anti Radang

Buat total pengobatan awal di Erha lumayan mahal sih buat kantong mahasiswa, tapi belakangan aku pikir itu worth it dengan hasilnya :)

Konsultasi dokter : 100.000
Krim wajah 5 macem + acne facial foam + obat antibiotik + obat anti radang : 590.000
Total keseluruhan : 690.000 + bedak tabur (85.000).

Hemm.. lumayan ya uang makan sebulan hahahaha.
Kalau berobat di Erha setiap bulannya harus konsultasi dengan dokter untuk melihat perkembangan kulit kita, biasanya jadwal sudah ditentukan oleh dokternya. Buat pasien baru biasanya bakal ditelepon dari Erha mendekati hari kontrol buat mengetahui perkembangan/keluhan sembari mengingatkan kontrol. Nah saat hari H kontrol kalau kita telat kontrol bakal di sms juga sama Erha buat ngingetin jadwalnya (strategi marketing nih XD).

Efek dari pemakaian Erha ini kulit jadi lebih kering dan sedikit ada pengelupasan. Tapi tetep ya kalo lagi cuaca panas, muka ku kayak kilang minyak. Sejauh ini, aku udah satu setengah bulan pakai Erha dan hasilnya luar biasaa deh cocok. Krim wajah + facial foamnya juga masih nyisa sedikit. Yah cukup buat stok satu setengah bulan.  Perubahan yang aku rasain yang jelas jerawat batu kempes semua (sekarang udah nggak ada jerawat batu), jerawat menghilang satu persatu, wajah lebih bersih dan halus, noda bekas jerawat memudar.

>> Update 28 September 2016

Aku pake Erha sejak Desember 2015- Juni 2016
Alhamdulilah, selama kurun waktu 7 bulan itu aku cocok pake Erha. Jerawat banyak yang hilang, terutama dibagian yang waktu dulu jadi langganan tempat nongol jerawat (tiap menstruasi pasti selalu nongol ditempat yang sama). Sampe sekarang dibagian itu nggak muncul jerawat lagi. Kulit wajah jadi lebih bersih & cerah dan glowing gitu, bopeng-bopeng jg sedikit-sedikit menghilang, wajah halus, nggak ada jerawat batu lagi.

Tapi sejak akhir Juni aku berhenti pake erha, barengan sama krim muka ku yang pada abis dan aku nggak kontrol lagi ke erha. Waktu itu selain lagi sibuk ngurusin nikah, agak berat juga duitnya mau buat kontrol wajah (prioritas duitnya kepake buat nikahan). Alhasil aku Nggak pake Erha sebulanan lebih lamanya. Ada perubahan sih ketika udah nggak pake Erha, dan yang paling berasa adalah jerawat batu nongol lagi T.T . Tapi sih nggak separah dulu, paling cuma 1-2 aja. Wajah juga nggak secerah dulu ketika pake Erha, tapi nggak kusem juga. Kan ada tuh yang berhenti perawatan wajah terus mukanya jadi kusem banget. Setelah itu after married sekitar bulan Agustus tgl 9 aku memutuskan buat beralih ke Larissa atas berbagai pertimbangan dan juga tanya temen-temenku yg perawatan wajah berjerawat disana. Next bakal aku posting soal perawatan wajah di Larissa ini..


Baca juga:
Review: Erha clinic dan jerawat part II
Review: Nyobain Skin care baru V 10 Plus Water Based Peeling dan Acne Serum untuk Kulit Berjerawat
Continue reading ((Review)) Erha Clinic dan Jerawat Part I

Saturday, 9 January 2016

((Pengalaman)) Seleksi Masuk Pascasarjana UGM



Move on dari rasa sakit hati selepas gagal masuk UNPAD, alhamdulilah.. siapa sangka malah aku lolos masuk UGM :) Kali ini aku mau share pengalaman mendaftar S2 UGM dan cerita selama kuliah di UGM.

Setelah tahu nggak lolos UNPAD, sempet ngerasa frustasi iya, bete iya, nangis iya. Bingung nggak tahu harus kemana lagi aku mencari universitas. Ditengah kegalauan ini, Aslih temen seperjuanganku nekad ngajakin daftar UGM, yang ceritanya nih ya.. selisih waktu ke hari terakhir pendaftaran tinggal 1 bulan aja kalo nggak salah. Kalau soal mempersiapkan berkas-berkas sih bisa cepet kelar. Tapiii  yang bikin aku panik adalah persyaratan wajib tes TOEFL dan TPA UGM. TOEFL nya wajib ITP dan syarat minimal score adalah 450 atau kalo nggak pake TOEFL ITP bisa pake ACCEPT (toefl nya UGM punya, tes-nya juga di UGM), sedangan score TPA minimal 500. Untungnya sih yaa kalo sertifikat TOEFL ITP aku udah punya, pernah tes dulu pas jaman-jaman baru lulus kuliah dan masih berlaku. Tapii... ada tapinya nih, yang ngeselin score ku cuman 447 doank selisih tiga angka mendekati syarat minimal. Itu kepanikan pertama. Kepanikan kedua adalah aku belum tes TPA di UGM. Sedangkan, tes TPA diselenggarakan pas hari Rabu.. itu kan hari ngantor, gemana pula aku alesan cuti-nya?? Nah hari tes TPA sebelum batas maksimal pendaftaran itu sekitar tgl 15-an pertengahan bulan, kalo hari ditutup pendaftaran-nya pas tanggal 30-an. Permasalahan muncul lagi, hasil tes TPA itu baru bisa diumumkan kurang lebih selama 15-30 hari setelah hari tes. Nah ya lohhh.. gemana ceritanya aku mau pake hasil TPA ku buat lampiran persyaratan??? Dengan segala kemumetan ini aku putuskan buat telepon ke fakultas psikologi UGM buat tanya seputar TPA. Ini tips pertama dari aku, kalau kamu mau daftar-daftar dan mengalami kondisi seperti aku ini daripada bingung mending telepon langsung ke fakultas/jurusan yang bersangkutan agar lebih jelas. Hasilnya menggembirakan, ternyata pihak penyelenggara tes-nya sangat pengertian. Mereka akan mengumumkan hasil tes-nya pas tanggal 29-nya, satu hari sebelum tutup pendaftaran dan aku bisa pake pengumuman online buat dilampirin ke syarat pendaftaran.. Jadi gak harus ambil sertifikat dulu.

Oke akhirnya aku janjian sama Aslih buat daftar TPA. Aku urus ini itu buat daftar termasuk mempersiapkan alesan cuti ke si bos yang terpaksanya harus boong :')
Beberapa hari sebelum tes, aku berusaha untuk belajar dulu buat memahami soal-soal TPA.. kebetulan aku juga punya buku latihan soal gitu, dulu beli buat prepare seleksi masuk kerja.
Hari yang ditunggu tiba juga, aku ujian TPA jam satu siang setelah terjadi beberapa insiden nggak penting gara-gara kecerobohanku. Ujian berlangsung kurang lebih dua jam. Jadi selesai ujian jam tiga sore. Sekedar pengetahuan, bahwa tes TPA itu ada beberapa sesi. Setiap sesinya diberi batas waktu mengerjakan. Dan kalau udah ganti sesi, nggak boleh mengerjakan lagi sesi sebelumnya. Mirip-mirip tes TOEFL gitu sih sistemnya. Jangan coba-coba buat ngelanggar aturan ini, karena pengawasnya ketat banget. 

Oya, soal TOEFL aku nekad pakai sertifikat TOEFL ITP-ku yang belum lolos score-nya itu. Karena waktu itu aku denger-denger kabar, UGM memberi kelonggaran untuk memenuhi syarat score tes TOEFL ketika sudah diterima kuliah nanti. Dan setelah aku kuliah ternyata ini bener. Bagi siapa saja pendaftar yang lolos, dan belum lolos batas minimal score TOEFL dan TPA diwajibkan memperbaikinya selama kurang lebih dua tahun kuliah. Jadi silahkan selama dua tahun itu score nya diperbaiki sampai lolos batas minimal. Jangan harap bisa ikut seminar hasil kalo dua score ini belum lolos (karena ini jadi salah satu syarat semhas). 

Aku juga sempet telepon ke jurusan Ilmu Komunikasi buat tanya-tanya seputar syarat masuk S2-nya. Jadi aku ada syarat tambahan buat masuk kuliah (diwebsitenya tertera keterangan "ada syarat tambahan, silahkan hubungi jurusan), disamping syarat umum yang diwajibkan pihak UGM. Syarat tambahanya itu aku disuruh bikin essay dengan tema isu komunikasi terkini, minimal 5 halaman. Masing-masing jurusan punya syarat tambahan yang berbeda-beda. Temenku yang fakultas hukum, dia ada tes tertulis dan wawancara. Saudaraku yg di PSDK dia nggak ada syarat tambahannya. Jadi beda-beda gitu, disarankan buat telepon langsung ke jurusan-nya, buat nomer telepon ada di website resminya ugm.ac.id.

Berdasarkan keterangan mas-mas yang angkat telepon di jurusan komunikasi seputar syarat score TOEFL atau TPA katanya mereka nggak mewajibkan score minimal untuk mendaftar. Berapapun score-nya boleh mendaftar. Semakin bagus score-nya semakin besar nilai tambah untuk diterima-nya. Maksudnya adalah begini, UGM memang punya standar score TOEFL dan TPA untuk para mahasiswanya. TOEFL min 450 dan TPA min 500 untuk jenjang S2, TOEFL min 500 dan TPA min 500 untuk jenjang S3 (keterangan ini ada di website resmi UM UGM, silahkan dibaca). Tapi berapapun score yang kamu peroleh UGM "tidak pernah melarang" kamu untuk mendaftar. Siapa saja boleh daftar dengan score berapapun. Karena faktanya komponen penilaian itu "ada banyak". Dan inipun lagi-lagi juga soal faktor keberuntungan ya, tentang layak dan tidak layak, tentang kandidat yang berkualitas atau tidak. Apakah dari berkas-berkas pendaftaran yang kamu kirimkan, kamu layak untuk diterima jadi mahasiswa S2/S3. Tapi lagi niiihh... misal kamu tuh punya waktu senggang yang banyak, ada baiknya score TOEFL dan TPA diperbaiki terus hingga mencapai yang minimal disyaratkan UGM. Karena ini memperbesar peluang kamu untuk diterima. Kalau ternyata kasusnya kayak aku, serba mepet dan kepepet... silahkan persyaratan lain dikerjakan dengan maksimal (seperti syarat bikin essay dan proyeksi keinginan) dan tentunya menanti keajaiban Ilahi :D Setelah mendengar penjelasan itu, aku cukup lega sih.. Katanya juga, hal ini berlaku untuk semua jurusan di UGM. Aku rasa ini cukup jelas ya, jangan ditanyakan berulang-ulang soal ini hehe..

Terus aku denger gosip lagi seputar penerimaan S2 UGM, Persyaratan masuk UGM kan ada banyak tuh, jadi komponen penilaiannya nggak cuma terpaku sama score TOEFL atau TPA. Denger-denger sih nilai yang cukup menunnjang adalah essay 'proyeksi keinginan'-nya UGM sama persyaratan tambahan yang diwajibkan jurusan. Kalau buat jurusanku, berarti tulisan essay-ku cukup berpengaruh. Buat pendaftar pascasarjana kita diwajibin buat ngisi lembar proyeksi keinginan. Isinya seputar alasan kenapa sekolah lagi, terus cita-cita, rencana masa depan, sama topik thesis. Akhirnya aku bagus-bagus-in deh ngisi proyeksi keinginan-nya. Lumayan berhari-hari bikin-nya buat memikirkan kalimat yang menarik dan bagus. Kalau essay tambahannya aku ambil tema tentang social media waktu itu.  

Kembali ke TPA. Tanggal 29, hari pengumuman hasil tes TPA. Lumayan ribet juga sih nyari score ku pas pengumuman di websitenya itu, karena sistemnya manual harus cari satu-satu.. belum lagi yang ditampilin itu tanggal lahir bukan nama kita, jadi harus ekstra teliti. Pas nemu tanggal lahirku, lemes gitu liat score-nya.. yaampun belom lolos 500 hiks.  Trus tiba-tiba ngerasa bego gemana gitu, perasaan kemaren bisa ngerjain deh. Duh.. emang kalo apa-apa bawa perasaan tuh nggak beres, lain kali ngerjainya harus pake otak jangan pake perasaan *malah curhat*

Score TPA dan TOEFL yang jauh dari sempurna sempet bikin pesimis gitu.. dan sempet kepirikan gak jadi daftar aja. Padahal waktu itu aku tahu soal komponen penilaian penerimaan. Tapi yah tetep aja ya ada rasa takut. Aku sempet curhat gitu ke Aslih sama mas pacar tentang hal ini. Dua-nya jawabanya sama... tetep ngedukung buat maju terus. Artinya tetep harus daftar, yah siapa yang tau kan kalau nggak mencoba?? Rejeki itu nggak kemana dan kalau Allah swt udah berkehendak, nilai TOEFL dan TPA bukan menjadi halangan.. *cieeeee*. Begitu nilai TPA udah keluar, aku langsung daftar online. Selesai daftar online, berkas-berkas aku print semua buat aku kirim hardcopy-nya ke jurusan ilmu komunikasi. Jadi ada dua sistem pendaftaran, yang pertama daftar online buat pemberkasan universitas dan yang kedua daftar dengan mengirim berkas hardcopy-nya lewat pos. Kalo pendaftaran kedua ini aku juga tanya pas telepon ke jurusan, biasanya masing-masing jurusan minta berkas hard-nya buat dikirim langsung ke mereka. Untuk waktu pengiriman berkas juga lebih panjang dibandingkan pendaftaran online-nya. Seingetku, maksimal pengiriman adalah tanggal 8 bulan berikutnya cap pos. Yaa.. karena tenggat waktu pengiriman lewat pos-nya lebih lama, aku agak santai kirimnya. Karena pengiriman kilat ke Joga dari rumahku cuman satu hari.

Tanggal 30, semua urusan pendaftaran beres.. legaaa bangeettt. Trus aku iseng-iseng buka website UGM gitu. Syok banget ya pas tau ternyata pendafataran online diundur sampai awal Agustus -.-. Pas waktu itu seingetku bulan Juni dan diundur sampai Agustus. Lumayan ciinn sebulan gitu ada waktu memperbaiki TOEFL dan TPA...!!! Bete banget asli, keseeel KZL! Nggak tau kenapa kok bisa di undur lama banget gitu, tapi kabar kabarnya sih UGM sering banget gitu. Udah batas maksimal pendaftaran ehhh tiba-tiba di undur. Karena pendaftaran online mundur, jadilah pendaftara offline (pengiriman berkas) juga di undur. So,, aku perbaiki lagi deh essay komunikasi sama proyeksi keinginan-nya.

Pengumuman penerimaan-nya tanggal 19 Agustus 2015 di website resmi ugm, um.ugm.ac.id. Lumayan lamaa nunggunya. Tips aku nih ya buat yang muslim, jangan lupa berdoa setiap habis solat 5 waktu dengan doa yang sama dan di ulang-ulang, ditambah solat-solat sunnah yang lain seperti solat Duha, Tahajud, dan solat Hajat. Bismilah, kalo kita bersungguh-sungguh insha Allah pasti terkabul keinginan kita.

Waktu itu aku buka website UGM malem sekitar jam 8 sepulang kantor. Dan ternyata susah banget gitu, mungkin crowded karena banyak yang bukak website-nya. Bolak-balik log in selalu gak bisa. Aku juga dimintain tolong sama saudaraku buat log in akun-nya dia. Ehhh malah punya saudara bisa dibuka, dan alhamdulilah dia lolos. Terus nangis bombay gitu pas aku kasih tau dia lolos hahahhaah :p Karena aku nggak kunjung bisa log in, akhirnya minta tolong mas pacar buat bukain.. dan bisa akhirnya bisa di buka juga akun-ku. Jadi ceritanya harus bukain punya orang lain biar bisa log in wakkkakak aneh!

Ehh mas pacar bbm, ngasih selamat kalo aku lolos. Aku nggak percaya gitu! Trus dia fotoin layar koputernya yang menyatakan aku lolos. Sontak deh sujud syukur seneng banget gitu. Alhamdulilah,, gak sia-sia perjuanganku... Setelah itu, jarak dari pengumuman ke pembayaran SPP, KRS, dan penerimaan maba cukup sedikit waktunya. Rentang pastinya tanggal 25-30 Agustus, dan perkuliahan aktif mulai tanggal 8 September. Kabar baiknya, tanggal 5 September aku dilamar gitu :') hihihi. Ahirnya engagement, one step closer ceritanya :D

Waktu aku nulis postingan ini, aku baru aja selesai UAS semester 1. Sedikit sharing ya tentang kuliah S2 di jurusan komunikasi. Awalnya aku syok di minggu-minggu pertama perkuliahan. Kenapa?? Karena jujur aja, kultur UGM dan Unsud (kuliah S1 dulu) itu bener-bener berbeda banget. Jadi pas kuliah S1 agak santai-santai gitu, ya kuliahnya ya tugasnya. Dan begitu nyampe UGM kuliah sama tugasnya nggak santai banget brohhh... Setiap kuliah mahasiswa harus wajib untuk berpendapat dan diskusi di kelas. Jadi dosen bener-bener jadi fasilitator doank, hal itu sangat diterapkan diperkuliahanku. Pernah nih mahasiswanya pada diem, terus dosen-nya agak bete gemana gitu. Soal tugas juga setiap minggu selalu ada, dan tugas itu dijadikan bahan diskusi untuk minggu berikutnya. Kebanyakan tugas adalah review jurnal dan literatur, dan kebanyakan juga bahan tugas tuh berbahasa inggris semua. Jadii yang kemampuan bahasa inggrisnya bagus sangat membantu disini hehhe. Kalau menurutku, asyik banget belajar disini karena wawasan dan pandangan kita berubah banget setelah kuliah S2. Meski sempat mengalami masa transisi kultur yang bikin mabok dan pengen nyerah ditengah jalan. Tapi semua perjuangan itu worth it banget sama apa yang bakal kita dapetin di perkuliahan. Saranku, enjoy it.. ikutin alur perjalanan dan nikmati setiap perkuliahan. Anggaplah sebagai proses pembelajaran yang akan meningkatkan kapasitas skill dan mengasah pemikiran kritis. Tambahan ya, mahasiswa yang dulu S1-nya UGM menonjol banget dikelas, dan mereka kritis-kritis banget dalam berpikir. Kita harus bisa manfaatin situasi ini buat banyak-banyak belajar dan diskusi sama mereka.

Update Agustus 2017
Hai gaes aku merasa perlu mengupdate postingan ini karena mau minta tolong ke siapapun kalian yg mampir kesini buat nggak menanyakan alur pendaftaran ya.. Mau syarat pendaftaran, mau tahapan pendaftaran ataupun tanya tes masuk S2 ugm apa aja? Plis banget karena itu pertanyaan yg kurang masuk akal buat ditanyain ke aku.. Pertama, setiap jurusan punya syarat dan tes masuk yg berbeda-beda. Kedua, setiap tahun selalu memungkinkan adanya perubahan syarat masuk s2 ugm. So, sangat nggak relevan aku jadi sumber informasi kalian karena aku mendaftar itu tahun 2015. Sekarang taun berapa buu.. Udah 2017, lewat 2 tahun yg lalu. Aku udah kasih link website ugm dibawah, jadi silahkan dibuka aja ya. Thanks 😊

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Website resmi  UGM :
www.ugm.ac.id

Website penerimaan mahasiswa baru:
www.um.ugm.ac.id



Continue reading ((Pengalaman)) Seleksi Masuk Pascasarjana UGM

Saturday, 25 July 2015

((Pengalaman)) Seleksi Masuk Pascasarjana UNPAD

Akhirnya kelakon juga niatan buat lanjut kuliah S2.  Anehnya, dulu pas aku jaman SMA pernah nulis sebuah impian di catetan facebook aku. Disitu ditulis aku pengen kuliah lagi, lanjut S2 dibiayain sama beasiswa. Anehnya lagi aku nggak ngerti kenapa nulis kayak gitu, tujuan sekolah lagi pun juga nggak tau buat apaan. Yang jelas kalo ada waktu dan kesempatan baik aku pengen bisa kuliah S2 kayak mamahku.

Sekitar bulan februari aku daftar tahap pertama UNPAD, biayanya 600 ribu. Pendaftaran semuanya lewat online. Pertama daftar buat dapet nomer tagihan pembayaran. Pas udah dapet nih, bayarnya selang 2,5 bulan kemudian. Pikirku agak santai karena deadline pendaftaran tanggal 22 mei 2015. Sembari nyiapin proposal thesis, (daftar unpad tahun 2015 seleksinya lewat proposal tesis + wawancara) yang proses pengerjaannya penuh perjuangan melawan kantuk & capek selepas pulang kerja. Aku cari-cari info juga nih lewat googling tentang seleksi masuk S2 UNPAD buat dapet bocoran. Tapi ternyata nggak nemu sama sekali -.-.

Awal mula aku memutuskan mendaftar UNPAD, bukan UGM karena di UNPAD ilmu komunikasi sudah menjadi fakultas, jadi jurusan yang tersedia jauh lebih banyak dibandingkan dengan di UGM. Kabarnya juga fakultas komunikasi di UNPAD cukup bagus.

Hari kamis, 14 Mei 2015 akhirnya aku bayar tagihan pendaftaranya 600 ribu. Malemnya aku apply buat isi pendaftaran online + ringkasan tesis sebanyak 350 kata, sejenis abstraksi gitu. Dapetlah kartu pendaftaran & surat pernyataan kelengkapan dokumen. Di kartu pendaftaran tertulis jadwal buat wawancara, yaitu hari sabtu, 30 mei 2015. Mampus dah! Keinget kantor, pas banget akhir bulan lagi closing dan sibuk-sibuknya. Aku pun mumet mulai mikirin mau ijin apan buat nggak berangkat kantor. 

Menjelang hari-hari mau wawancara yang mengaruskan bawa proposal thesis lengkap 2 eksemplar, jujur aja aku rada males-malesan ngerjain proposal. Bukannya kenapa-kenapa, tapi belakangan sering lembur kantor, kerjaan banyak banget jadi sering pulang malem. Ditambah embah putri yg lagi sakit, jadi aku sering bolak-balik ke rumah embah di Banjarnegara buat tengokin. Agak terbengkalai itu proposal. Akhirnya aku belain buat nggak malem mingguan sama mas pacar, buat nglembur ngerjain proposal di waktu wekeend (satu-satunya waktu free buat ngerjain proposal). 

2 minggu menjelang ujian wawancara, progres proposal udah 90% jadi. Rencananya mau minta tolong sama bu dosen (red: mamih) buat ngoreksi proposal aku. Ehh lagi-lagi aku dapet musibah, embah putri meninggal hari Rabu, 20 Mei 2015. Sedih banget & lumayan bikin pikiran & tenaga tersita karena aku full dirumah embah buat bantu-bantu disana. Ditambah mata bengkak yg nangis + kurang tidur. Alhasil proposal terbengkalai lagi selama 5 hari. Menjelang hari-hari yang semakin mepet, akupun menyelesaikan proposal tesis dengan penuh perjuangan.

Oya, beberapa kali ada yang mengirimi aku email dan tanya soal format proposal tesis-nya UNPAD seperti apa. Jujur aja kalo sekarang seperti apa aku nggak tahu. Lebih lengkapnya silahkan menghubungi langsung ke jurusan yang bersangkutan lewat telepon. Dan aku juga lupa dulu tuh UNPAD mencantumkan format proposal atau nggak di persyaratannya. Yang jelas dalam pikiranku, proposal tuh ya selayaknya kita mengajukan proposal skripsi dulu. Ada latar belakang, tujuan, rumusan, manfaat, penelitian terdahulu, kerangka teori dan metode. Format standar gitu lah aku bikinnya.

Jumat, 29 Mei 2015 aku berangkat ke Bandung ditemenin mas pacar. Selama perjalanan aku baca-baca lagi proposalku sembari searching. Aku juga udah nyiapin beberapa kemungkinan pertanyaan sekaligus jawabannya yang bakal ditanyain pewawancara. Dan aku nyiapin se detil mungkin. Sabtu, 30 Mei 2015 pkl 03.00 kita sampe di Bandung. Ini kedua kalinya ke Bandung, setelah yg pertama dulu jaman study tour SMP, itupun cuman ke Cibaduyut hahaha.

Kita transit di rumah sodaranya mas pacar. Jadwal wawancara jam 8, kita berdua berangkat jam 7 pagi buat jaga-jaga karena baru pertama kali ke kampus UNPAD. Kalo kata sodaranya mas pacar sih unpad deket cuma 15 menit nyampe. Tapi ternyataaa mas pacar gak ngasih tau kalo kampus UNPAD ku tuh yg di Jatinangor, alhasil perjalanan adalah sejam! (Waktu itu pengen bgt ninju mas pacar yg kalo ngasih keterangan suka nggak lengkap -.-)

Wawancara berlangsung di gedung pascasarjana ilmu komunikasi lantai 2. Nyampe sana, ternyata udah ramai. Ada yg pake baju rapih banget, ada juga yang pake bajunya cuek banget kayak mau main ke mall. Setelah itu aku liat daftar nama peserta yang ada di papan depan ruang wawancara, aku masuk ke kelompok 10. Hari itu yg ikut seleksi wawancara S2 68 orang. Jumlah itu di bagi 10 kelompok. Setiap anak diwawancarai oleh 2 orang dosen.



Di sana aku ketemu temen kuliahku dulu. Namanya Aslih, dia pinter IPK nya tinggi banget ditambah udah dapet beasiswa LPDP pula. Ah, palingan dia diterima.. pikirku waktu itu. Setelah say hello sebentar, kita duduk ditempat masing-masing. Aku berdoa terus sebelum mulai wawancara dan ditenangin juga sama mas pacar. Tapi tetep aja yah tangan sama kaki dingin ditambah deg-degan banget. Jam 8.30 mulai dipanggilin satu-satu buat masuk ke ruang wawancara. Aku agak nyantai karena tadi di daftar absen aku masuk urutan nomor 2 dari bawah. Setiap kelompok dipanggilin mulai dari urutan pertama. 

Mulailah dipanggil kloter kelompok 10. Aku inget kelompok 10 yang pertama dipanggil namanya Dina. Eh ternyata yg dipanggil nggak kunjung nongol. Akhirnya lanjut ke urutan selanjutnya. Betapa syoknya ternyata urutan selanjutnya aku! Oke, semua mata mengarah padaku. Bismilah.. batinku terus berdoa, semoga lancar.

Masuk ruangan, aku diwawancarai oleh dua orang dosen perempuan. Dosennya cantik-cantik, berhijab dan pakaiannya glamour. Mirip kayak yang di tv-tv itu, kalangan hijabers sosialita. Gadget nya seharga motor. Aku sempet gagal fokus karena ngliatin dua dosen cantik di depanku :D

Aku mulai dengan berjabat tangan dengan bu dosen. Selanjutnya disuruh menyerahkan semua persyaratan yang diminta sewaktu wawancara, yang terdiri dari proposal tesis 2 rangkap yang dijilid rapih (tapi punya ku yg diminta cuman satu), bukti pendaftaran/ kartu peserta, surat rekomendasi, transkip nilai & ijazah, sertifikat TOEFL.. seingetku itu aja sih. Pertama kali ibu dosen menyebut nama lengkapku dan menanyakan siapa panggilannya. Langsung ke intinya, ada beberapa poin yang ditanyakan sewaktu wawancara:

1. Bisa diceritakan tentang diri anda dan latar belakang keluarga?
 Aku pun cerita A-Z tentang keluarga.

2. Oh kamu asli purwokerto ya? Berarti dulu kuliah dimana? di universitas un, un apa itu ya?
 UNSOED bu -.-

3. Kalo orang tua kerja dimana?
  Bapak sekdin dinsos banjarnegara, ibu dosen, bla.. bla..bla..

4. Trus sekarang kegiatan hari-hari ngapain?
   Saya alhamdulilah sudah kerja bu, di bla.. bla.. bla.. dan kalo diterima saya mau resign dan fokus kuliah.

5. Berarti kamu nanti kuliah ambil kelas reguler ato paralel?
   Reguler bu.

6. Yang reguler ya, kuliahnya senin sampe kamis. kalo nggak salah tuh 11,5 juta per semester. Kalo      yang paralel 24 juta, cuma sabtu minggu aja kuliahnya.
   *nelen ludah* dan si ibunya sante banget gomongnya, sambil pose sangga uwang. Syok, ternyata     UNPAD mahal bingit, bisa buat depe mobil second itu biaya spp.

7. Kamu target mau berapa taun kuliah?
    2 tahun bu. Insya Allah mau tepat waktu.

8. 2 taun? disini bisa cepet loh, 1,5 taun juga bisa. Asalkan kamu serius kuliah, bisa cepet kelar.              Kamu full kuliah kan nggak sambil kerja?
    Ohh bisa 1,5 taun bu? Kalo gitu kenapa enggak, akan saya usahakan agar bisa lulus 1,5 tahun. Ya bu saya mau fokus kuliah saja nggak sambil kerja.

9. Sekarang soal sumber dana kuliah, kamu mau dari mana dana untuk bayar kuliahnya?
  Aku pun cerita tentang rencana pengajuan Beasiswa Unggulan dan LPDP. Cerita pula tentang kemaren gak lolos LPDP tapi mau coba daftar lagi.

10. Nah kalo beasiswa gagal? Mau bayar kuliahnya pake apa?
  *Pake daun!* hahah, becanda, dalem hati doank kok. 
    Insya Allah dana full dari orang tua bu, kemungkinan juga saya mau usaha kecil-kecilan untuk     tambahan pemasukan.

11. Loh gemana, katanya mau full kuliah nggak sambil kerja?
    *Nah ya, salah jawab deh* Maksud saya, bukan usaha yang banyak menyita waktu. Saya bisa       usaha lewat gadget kayak online shop gitu bu.

12. Ohh gitu.. ini tesis kamu tentang apa? dan mau ambil konsentrasi jurusan apa?
     Konsentrasinya ilmu komunikasi, kalo tesis tentang bla bla bla...

13. Berarti ambil konsentrasi yg umum ya? Alasannya ambil tema tesis itu? emang dulu              skripsimu tentang apa?
     Skripsi tentang komunikasi pemasaran bu. bla bla bla

14. Kenapa gak ambil tema komunikasi pemasaran aja, lanjut dari skripsi kamu? disini kan ada         konsentrasi komunikasi pemasaran.
Dulu saya ambil tema itu karena bla.. blaa.. bla.. dan sekarang saya lebih berminat ke tema lain karena bla.. bla.. bla..

15. Disini kan gak ada konsentrasi itu... sayang loh, mending masuk pemasaran   aja.. ngembangin penelitian mu yang dulu. Udah yakin mau penelitian ini?
Ya bu, saya yakin. Tapi nanti tergantung konsultasi dan masukan juga dengan pembimbing.

Hal selanutnya yang ditanyakan adalah tentang validitas data pendaftaran..
Kurang lebih 10 menit, wawancara selesai. 10 menit yang berasa berjam-jam. Keluar ruangan aku langsung dikerubutin temen-temen sesama pendaftar dan ditanyain macem-macem deh.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Hari yang ditunggu-tunggu dateng juga. 17 Juni 2015, pengumuman kelolosan UNPAD. Semalem sebelum pengumuman, aku mimpi kalo lolos UNPAD sedangkan temenku itu enggak. Entahlah itu mimpi atau ngarep. Pagi buta abis subuhan langsung buka website UNPAD buat lihat pengumuman, dan mungkin aku terlalu bersemangat.. pengumumannya belum keluar. Selama di kantor juga was-was karena deg-degan banget nunggu pengumuman. Jam 9 pagi aku buka website UNPAD lagi, dan belum keluar juga. Setelah itu tiap jam aku buka website UNPAD. Terakhir aku buka lagi sekitar jam 11.30 pengumuman akhirnya keluar...
Taraaaa..... Nggak Lolos!

Langsung down, dan sedih banget. Ya Allah kenapa gak lolos???? dan begitu banyak pertanyaan bermunculan di otak. Hari itu amat sangat nggak mood di kantor karena suasana hati yang nggak karuan. Pikiranku langsung nyantol ke temenku yang ketemu pas sesi wawancara itu. Tuh anak lolos gak yaa?? Jangan-jangan semalem mimpiku kebalik, Aslih yang lolos dan aku yang enggak. Bisa jadi sih. Sampe siang aku belum berani tanya ke Aslih, dia lolos apa enggak. Jujur aja agak malu sama Aslih karena aku nggak lolos. Tapi kalo di pikir-pikir, kok Aslih sampe menjelang malem nggak juga nge-wassap aku? Padahal sebelumnya kita emang sering wassap-an buat share tentang info beasiswa dan S2. Malemnya, baru deh aku cerita tentang nggak lolos unpad ke mas pacar sambil nangis bombay. Seperti biasa juga, mas pacar dengan sabar mendengarkan sembari menenangkan. Besoknya, aku memberanikan diri buat nge-wassap Aslih sambil nyiapin mental karena malu.

aku: Aslih, udah buka pengumuman unpad? gemana, kamu lolos nggak??

Aslih : Iya udah. Aku nggak lolos :( . Kamu lolos ya?? selamat ya..

aku: hah??? masa sih??? aku juga nggak lolos kohh :(

*Aku langsung syok, karena Aslih nggak lolos.. yaampun kenapa yah kira-kira. Padahal biaya kuliah udah terjamin, udah dapet beasiswa LPDP pula... kenapa nggak lolos? Apa salahnya? Langsung mikir nih, kayaknya ada yang nggak beres*

Aslih : Loh aku kira kamu lolos..

Dan selanutnya obrolan kita adalah tentang keganjilan karena kita sama-sama nggak lolos... dan kita berusaha move on cari universitas lain yang masih buka pendaftarannya...

Baca Juga :


Continue reading ((Pengalaman)) Seleksi Masuk Pascasarjana UNPAD

Monday, 11 May 2015

If You Can Dream it, You Can Do it Part 3



Part 3

Its Not about the Diamond, its about Passion. To be good if you can get two of them.

Selama masih kuliah, aku pernah beberapa kali kerja part time buat nambah-nambah duit jajan sekaligus pengalaman. 3x sih kalo nggak salah. Kesemuanya nggak pernah bertahan lama. Paling lama 3 bulan, trus resign buat fokus kuliah. Dari kesemuanya, alasan aku resign selain tugas kuliah yang menumpuk adalah aku bosenan. Ya bosen banget kerja cuman duduk di ruangan nunggu pelanggan dateng. 

Itu pemikiranku 1,5 tahun yg lalu. Sekarang? Aku terjebak dalam nostalgia! Hahhaha. Terjebak sama omongan sendiri maksudnya.. Niatan nggak mau kerja kantoran, eehh kesasar kerja di kantor. Any something wrong kerja kantoran di sini itu bener banget. Seperti kesasar juga iya banget. Dari awal masuk kerja aku bergelut dengan diri sendiri buat pencarian jati diri. Aku terus berpikir dan bertanya pada diri sendiri. Aku hidup mau apa? Untuk apa? Buat siapa? Mau melakukan apa? Bingung banget buat ngejawab pertanyaan-pertanyaan itu. Aku sering banget curhat sambil nangis bombay ke mas pacar, dan dia dengan sabarnya ngladenin aku yang lebay ini~

Disamping terus kerja kantoran sambil belajar & cari pengalaman, pelan tapi pasti aku berusaha me-restart hidupku. Mencari tau apa yang aku mau dan apa yang akan membuatku bahagia, its about passion right? Mengutip dari bukunya Ahmad Rifa'i, "jangan main-main dengan dua hal ini: memilih jodoh dan profesi, karena kita akan menghabiskan hampir seumur hidup dengan keduanya." Bener banget kan kutipannya? Kalau pilih jodoh, udah. Insha Allah dia yg the best buat aku.. Amiin. Nah profesi ini yg belum aku dapetin. Bukan masalah uang dan bukan masalah kerja di tempat yang keren. Aku udah menepis itu jauh-jauh. Ini masalah panggilan hati, akan kemanakah hati ini berlabuh? Itulah jawaban yang harus segera di cari.

Dari dulu aku udah mendapati bahwa ada sesuatu yang beda dari diriku sendiri, beda nggak kayak kebanyakan orang pada umumnya. Kalau kebanyakan orang liat sesuatu mereka berdecak kagum, beda halnya denganku. Aku bakal berdecak kagum sambil berpikir, bagaimana caranya menciptakan yang seperti itu? Bahkan yang lebih keren lagi kalo bisa... Aku nggak pernah bilang "nggak bisa" sebelum mencoba. Ketika udah dicoba tapi tetep nggak bisa, aku bakal makin penasaran lagi buat terus mencoba sampai bisa. Jiwa pejuangku emang luar biasa, dan satu lagi kelebihanku, aku nekad banget orangnya. Tapi permasalahanya adalah, sifat-sifat kayak gini bisa terkikis kalo nggak di dukung dengan situasi sekitar. Artinya lingkungan dengan atmosfer yang mendukung. Nah kalo disekelilingku orangnya pada males-males? Bisa aja aku jadi ketularan.. Makanya ada istilah, kita yang harus merubah keadaan, atau keadaan yang akan merubah diri kita. Setuju??

By the way soal panggilan hati, aku mulai menemukan apa mau hatiku sebenernya.. ciiehhhh ehm. Sebenernya udah lama sih aku tahu, cuman masih takut untuk mengakui. Tapi sampai kapan mau takut mengakui? Masa depanku sudah dimulai, waktunya bergerak tinggalkan zona nyaman. Aku tahu aku seneng jadi enterpreneur, terbukti sejak kuliah aku mendirikan beberapa kali usaha yang modalnya dibiayain kampus. Yup ikut program PKM nya dikti dan alhamdulilah 2 kali lolos dapet pendanaan. Pernah terbesit dalam hati kalau nanti suatu hari nanti apapun profesiku, jadi enterpreneur tetep harus jalan. Bisa dibilang udah jadi hobi, ngerasa asyik juga iya. Ada kepuasan tersendiri juga buat jadi enterpreneur, aku bisa bantu orang lain, bisa menghidupi orang lain dengan usahaku. Tapi jangan dikira jadi enterpreneur itu gampang dan bisa langsung sukses. Jatuh bangun itu biasa, gagal juga sering. Jadi pengusaha emang kayak cari jodoh, jodoh-jodohan sama usahanya. Kalau belum jodoh ya terus aja cari sampe dapet. Dan kalau udah dapet, dipertahankan.. karena kita bakal sukses dengan jodoh itu. Dari beberapa kali usaha yang aku bangun, yang masih bertahan sampai saat ini cuma satu. Lah yang lain? ada lahh beberapa permasalahan yang mengharuskan bubaran sampai overtake. Begitulah resikonya jadi pengusaha, harus siap rugi juga. Sekarang aku berusaha bangkit lagi buat cari 'jodoh' usahaku. Entahlah sambil terus mencari dan sesuai dengan kesenengan alias hobi tentunya. Yang pasti mau mencoba usaha dengan skala yg lebih besar biar menghasilkan lebih banyak juga.

Panggilan hati yang kedua adalah aku udah memutuskan profesi tetapku. Aku mau jadi dosen. Kenapa dosen? Panjang sih ceritanya.. keputusan ini juga nggak terlepas dari aku yang dibesarkan di lingkungan keluarga  yg sebagian besar profesinya guru, terutama ibu aku yg beliau juga menjadi dosen. Nggak pernah terbesit sedikitpun buat jadi guru ataupun dosen, apa bagusnya? Pikirku waktu itu. Aku bahkan berpikir untuk pekerjaan lain yang lebih keren dan dengan gaji yang gede. Tapi itu semua berubah seiring aku tumbuh dewasa.

Aku seneng banget nonton acara tv yang tema-nya motivasi, atau tentang reality show yang menampilkan sisi kehidupan orang-orang tertentu. Gara-gara tayangan tv itu, aku jadi kagum sama sosok guru. Yap, sempet beberapa kali nonton tentang pengabdian ikhlas seorang guru yang mengajar di daerah pelosok, yg notabene akses susah, minim fasilitas, minim upah pula. Ditambah lagi liat anak-anak pedalaman yang semangat berangkat sekolah meski perjalanan yang ditempuh ke sekolah juga nggak gampang. Jujur sihhh sering malu sama diri sendiri kalo inget sekolah masih suka males-malesan -.-

Acara tv jadi awal mula kekagumanku akan sosok guru, yg kedua datang dari intern keluarga. Kayak yg aku cerita tadi kalo ibuku berprofesi sebagai dosen. Dari jaman aku SMA sampe mau wisuda kuliah, aku inget banget sering banget dilibatin sama ibuku ke kegiatan-kegiatannya beliau. Memasuki jenjang kuliah aku baru tau kalo jadi dosen itu ada tri dharma perguruan tinggi, yaitu mengajar, penelitian dan pengabdian. Duluu aku taunya yaa dosen tuh cuma ngajar dikelas aja. Tapi ternyata jadi dosen nggak sebercanda itu haha.

Jadi sekarang ceritanya aku udah tau, kalau dari dulu kegiatan yang sering aku ikutin itu pengabdian dan penelitiannya ibuku. Bisa dibilang aku yang paling sering diajak ibu buat kegiatan-kegiatan ini, dari situ aku juga jadi banyak pengalaman dan banyak ilmu. Lama kelamaan aku ngerasa enjoy buat terlibat sama kegiatannya ibu. Aku juga ngerasa bahwa, ini lohh duniaku banget. Aku selalu penasaran, selalu ingin tahu. Aku ngerasain atmosfer kompetisi, kompetisi buat lolos penelitian, pengabdian masyarakat, dan kompetisi-kompetisi lainnya. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Selain bermanfaat buat orang-orang disekeliling, dari pengabdian & penelitian nantinya aku bisa meningkatkan skill-ku, meningkatkan empati dan simpatiku terhadap lingkungan sekitar, bisa memberikan kontribusi yang bermanfaat. Insha Allah, aku niatin ini semua buat beribadah dan sekarang mulai menata rencana buat menggapai cita-cita..

The End

If You Can Dream it, You Can Do it Part 1
If You Can Dream it, You Can Do it Part 2

Continue reading If You Can Dream it, You Can Do it Part 3

Thursday, 7 May 2015

If You Can Dream it, You Can Do it Part 2

If You Can Dream it, You Can Do it Part 1

Part 2

Menjalani 10 bulan kerja di perusahaan ini banyak bgt pembelajaran yg bisa aku ambil hikmahnya. Percaya deh, setelah kerja 10 bulan tiba-tiba aku nggak menganggap penting lagi soal gaji. Yaa bukannya sok, tapi aku percaya Tuhan selalu mencukupi kebutuhan hidupku, dan alhamdulilah aku selalu merasa cukup. Ngomong-ngomong soal ambil hikmah, ya aku belajar banyak bgt disini. Bukan cuma tentang jobdesk ku, tugas-tugas di operation yang ampuun deh banyaknya, tapi aku juga belajar kedisiplinan kerja, kepribadian orang lain, budaya kerja, karakter kepemimpinan, kebersamaan, dan kerjasama tim. Disini udah jadi rumah pertama buat aku. Kalo di itung-itung sih waktuku lebih banyak tercurah di kantor daripada di rumah. Nah makanya kantor jadi rumah pertama, rumah yang sesungguhnya jadi rumah kedua -.-

Nyambung sama masalah gaji, kenapa aku nggak lagi mempersoalkan gaji? (Yaa walaupun sih gajiku udah naik ditambah full fasilitas dan tunjangan). Aku punya tujuan lain dalam bekerja, karena aku sadar, aku nggak bakalan kerja disini selamanya (its really not my world). Selain pada umumnya orang kerja tuh cari duit, aku punya niatan yang lain:
1. Untuk ibadah. Pokoknya kerja aku niatkan untuk beribadah pd Allah swt, karena setiap orang-orang yang berjuang dan berusaha pasti akan dimudahkan dan diberi jalan oleh Allah swt.
2. Untuk belajar & menimba ilmu. Setiap saat aku dikantor, berusaha menyerap ilmu dari sekelilingku. Dari karakter temen-temen kantor, dari kejadian-kejadian di kantor. Alhamdulilah lingkungan kerja disini sangat kekeluargaan. Nggak ada senioritas, semua sama, semua teman.
3. Untuk menjalin silaturahim, mencari relasi. Seperti yang aku bilang tadi. Disini udah jadi rumah pertamaku. Bayangin aja kerja senin-jumat jam 9.30-16.45 ditambah hari sabtu jam 9.30-13.00. Belum lagi kalo lemburan, bisa pulang sampe sekitar jam 19.00-21.00. Rekor nya adalah pulang jam 23.00 karena lemburanya ampun dehh. Mau nggak mau aku setiap hari banyak menghabiskan waktu dikantor, aku juga harus punya hubungan baik dong sama temen-temen kantor. Jadi aku udah anggep mereka kaya keluarga dan saudara sendiri.
4. Untuk refreshing. Nahhh kalo yang satu ini, nggak semua orang bisa berpikiran sama kayak aku. Yang ada di kepala orang tentang pekerjaan mungkin adalah beban, momok, bikin pusing, nyut-nyutan, bikin capek & lelah. Boleh deh tanya sama temen-temen kantor, apa pernah aku dikantor marah-marah, pasang muka asem, moody-an, ato pernah ngomong yang nggak enak. Aku terkenalnya anaknya cerewet, suka becanda, dan hampir nggak pernah keliatan marah. Apa kuncinya? Aku menganggap kerja itu refreshing, liburan. Dan yang namanya liburan, pikiran juga harus fresh kan?

Aku nggak menganggap pekerjaan adalah sesuatu yang membebankan. Santai aja lah.. Tapi bukan berarti nggak serius juga. Maksudnya santai dalam arti berpikiran yang jernih, ditambah hati yang riang gembira dalam mengerjakan setiap pekerjaan kantor. Satu hal lagi yang aku terapin di kantor adalah, aku nggak pernah ngambil hati sama perkataan atau sikap temen-temen kantor yang mungkin secara nggak sengaja pernah menyakiti perasaanku, hiks :'( Pasti lah dalam lingkungan kantor selalu ada gesekan-gesekan nggak enak dan pertengkaran-pertengkaran kecil. Tapi balik lagi ke diri sendiri, kita mau menyikapi nya bagaimana? Mau ikut-ikutan bersikap seperti itu, atau mau jadi orang yang bisa berpikiran jernih tanpa perlu membawa emosi. Ibarat AC gitu di cuaca yang panas terik, membawa adem~ halah, gak nyambung! -.-

Sakit hati, kesel, marah? Ya sering lah.. Namanya juga berhubungan sama banyak orang dengan bermacam karakter. Tapi balik ke diri sendiri, aku nggak menyikapi perlakuan mereka secara serius. Easy going aja, bawa santai. Aku diciptakan bukan untuk mendendam. Kalo ditanya nyaman gak, seneng gak kerja disini? Yes, i agree.. I feel comfort. But, any something wrong with me.. Kerja disini juga berasa aku lagi  jalan-jalan ke Paris, maunya ke menara Eifel malah nyasar ke hutan belantara. Begitu sih kalo diibaratkan..
Continue reading If You Can Dream it, You Can Do it Part 2